Berita

Jangan Buru Biawak mereka Pengendali Tikus Alami, Jika Hilang Petani Akan Rugi

35
×

Jangan Buru Biawak mereka Pengendali Tikus Alami, Jika Hilang Petani Akan Rugi

Sebarkan artikel ini

 

LAMONGANLIPUTAN 9.CO

Biawak bukan hewan yang harus ditakuti, diusir, apalagi diburu. Justru, ia adalah sekutu terpenting para petani di ladang maupun persawahan. Sebagai predator alami pemangsa tikus, keberadaan biawak di sekitar lahan pertanian sangat membantu menekan populasi hama yang setiap tahunnya menimbulkan kerugian besar bagi para petani. Sayangnya, hewan yang sangat bermanfaat ini justru diburu secara masif dan terus-menerus untuk dijual dagingnya, sehingga populasinya di alam liar semakin menurun drastis dari hari ke hari.

Kini para petani mulai merasakan dampak nyata dari berkurangnya populasi biawak di alam liar. Hama tikus semakin banyak dan semakin merajalela di ladang maupun persawahan. Hal ini terjadi karena predator alami pemangsa tikus — yaitu biawak — terus diburu dan ditangkap, sehingga tidak ada lagi yang menahan laju pertumbuhan populasi tikus. Akibatnya, kerusakan tanaman semakin parah dan kerugian petani pun semakin besar setiap musim panen tiba.(28/8/2026)

Tikus dikenal sebagai hama paling merusak tanaman padi, jagung, kacang hijau, dan berbagai komoditas pertanian lainnya. Satu ekor tikus dapat merusak tanaman dalam jumlah besar dalam waktu singkat, dan jika populasinya tidak terkendali, kerugian yang ditimbulkan bisa mencapai jutaan rupiah pada satu kali musim tanam. Tanpa kehadiran biawak sebagai pemangsa alami, populasi tikus akan meledak tak terkendali, menambah beban kesulitan petani sekaligus meningkatkan ketergantungan pada penggunaan pestisida berbahaya yang lama-kelamaan dapat merusak kesuburan tanah dan mencemari lingkungan sekitar.

 

Menyadari pentingnya peran hewan ini, Iswanto, seorang jurnalis sekaligus pemerhati lingkungan dan pecinta reptil di wilayah Kabupaten Lamongan, secara tegas menekankan kepada seluruh warga untuk berhenti memburu biawak. “Jangan pernah memburu, menangkap, maupun menjual biawak. Hewan ini adalah sahabat kita, bukan musuh. Justru ia membantu petani dengan memangsa tikus-tikus yang merusak tanaman kita. Kalau biawak habis, tikus yang akan merajalela dan kita sendiri yang akan rugi,” tegas Iswanto.

Nilai jual daging biawak yang dianggap tinggi membuat perburuan terhadap hewan ini terus berlangsung tanpa kendali. Banyak pemburu yang sengaja menangkap hewan ini di alam liar, bahkan ada yang secara khusus mencari dan memburunya untuk diperjualbelikan. Padahal perannya dalam menjaga keseimbangan ekosistem sangat besar dan sangat berarti bagi kelangsungan pertanian di wilayah kita. Jika hal ini dibiarkan terus berlanjut, kerugian ganda akan terjadi: biawak perlahan punah, hama tikus merajalela tanpa lawan, dan hasil panen petani pun akan menurun drastis setiap musimnya.

“Kehilangan biawak sama saja dengan kehilangan pengendali hama alami yang gratis dan sangat efektif. Jangan sampai kita sendiri yang mengusir sahabat petani kita sendiri demi keuntungan sesaat,” tambah Iswanto.

Demi kelestarian alam, keseimbangan lingkungan, dan kesejahteraan para petani, seluruh lapisan masyarakat dihimbau untuk bersama-sama menghentikan perburuan, perdagangan, maupun konsumsi daging biawak. Mari kita jaga dan lindungi keberadaan hewan ini di alam liar, karena melindungi biawak berarti kita juga sedang melindungi pertanian kita sendiri demi masa depan yang lebih baik.

(Iswanto)

Tinggalkan Balasan