Berita

Bupati Bantaeng Resmi Buka Festival Generasi Hijau Jilid lll di SMAN 1 Bantaeng

45
×

Bupati Bantaeng Resmi Buka Festival Generasi Hijau Jilid lll di SMAN 1 Bantaeng

Sebarkan artikel ini

Bantaeng.Sulsel.Liputan9.co.

Semangat menjaga lingkungan menggema di SMA Negeri 1 Bantaeng. Ratusan pelajar dan insan pendidikan dari berbagai sekolah berkumpul dalam Festival Generasi Hijau Jilid III, Kamis, 8 Oktober 2026.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMA Negeri 1 Bantaeng tersebut mengusung tema “Nusantara Lestari, Semangat Muda Menjaga Ekosistem dan Kehidupan.”

Festival ini berlangsung selama tiga hari, 8–10 Oktober 2026, dan mempertemukan pelajar SMA, SMK, dan MA dari wilayah Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V Bantaeng–Bulukumba–Sinjai.

Menurut ketua panitia, Asdar Syaputra (siswa kelas XI-7) dalam laporannya bahwa jumlah pendaftar sebanyak 15 sekolah, yang terdiri atas 3 sekolah dari kab. Bulukumba: SMAN 12 Bulukumba, SMKN 10 Bulukumba, dan SMK TI Bulukumba, sementara 1 sekolah dari kab. Sinjai yaitu SMAN 9 Sinjai. Selebihnya adalah dari kabupaten Bantaeng.

Kegiatan Festival Generasi Hijau (FGH) ini dirancang untuk membangun kecintaan pelajar terhadap peduli lingkungan, apalagi SMAN 1 Bantaeng sudah mendapatkan prestasi tingkat nasional sebagai sekolah adiwiyata mandiri.

Kehadiran Bupati Bantaeng, Muh. Fathul Fauzy Nurdin, menjadi salah satu momen penting dalam pembukaan festival. Di tengah suasana penuh semangat dan antusiasme pelajar, Bupati memberikan apresiasi terhadap konsistensi SMAN 1 Bantaeng dalam menghadirkan kegiatan yang menjadikan lingkungan sebagai bagian dari pendidikan.

Bukan sekadar berbicara tentang lingkungan, momen tersebut juga ditandai dengan aksi nyata kepedulian terhadap lingkungan, yang tergambar dalam kegiatan penyiraman bunga ‘Asoka” oleh bupati Bantaeng yang didampingi oleh Kepala Cabdis Pendidikan Wilayah V dan Kepala UPT SMAN 1 Bantaeng di atas panggung, sebagai simbol kepedulian terhadap ekosistem dan kehidupan yang juga sekaligus menandai pembukaan FGH Jilid III di SMAN 1 Bantaeng.

Pesan yang disampaikan pun sederhana, tetapi sangat relevan dengan tantangan lingkungan saat ini.

“Inilah salah satu sekolah yang mengangkat tema khusus tentang lingkungan. Pendidikan itu memang menjadi dasar, tetapi perlu ada hal-hal lain seperti bagaimana kita bisa mengelola sampah,” ujar Bupati Bantaeng.

Bukan Sekadar Lomba, tetapi Ruang Belajar bagi Generasi Muda Festival Generasi Hijau Jilid III tidak hanya menjadi ajang kompetisi antar pelajar. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang bagi siswa untuk menuangkan gagasan, kreativitas, dan kepedulian mereka terhadap persoalan lingkungan.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V; H. Arafah dalam sambutannya juga memberikan apresiasi yang dilaksanakan oleh SMAN 1 Bantaeng yang telah menggelar Festival Generasi Hijau (FGH) dari Jilid 1 (2023) hingga FGH Jilid 3 tahun 2026 ini.

Beliau juga memberikan semangat kepada siswa untuk memanfaatkan dan kesempatan dalam meraih prestasi melalui lomba yang berjenjang dari sekolah hingga ke tingkat nasional, terutama dalam bidang olahraga, ada O2SN (Olimpiade Olahraga Siswa Nasional), dalam bidang seni ada FLS3N (Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional), dan dalam bidang akademik mata pelajaran ada OSN (Olimpiade Sains Nasional). Silahkan dimanfaatkan ajang kompetisi tersebut, tegas H. Kacabdis Wilayah V.

Sementara itu sambutan dari kepala UPT SMAN 1 Bantaeng, Dr Wahid Hidayat, S.Pd.,M.Pd. Dalam sambutannya menyampaikan, bahwa rasa syukur dan terima kasih kepada kehadiran bapak Bupati, Kepala Cabang Dinas dan semua pihak yang telah berkenan hadir dalam pembukaan Festival Generasi Hijau Jilid III.

Kehadiran bapak bupati Bantaeng menjadi bukti bahwa kita semua berkomitmen untuk peduli terhadap alam dan lingkungan, khususnya menjaga prestasi SMAN 1 Bantaeng sebagai sekolah adiwiyata mandiri, dan insya Allah secara langsung dan tidak langsung akan berdampak terhadap capaian kabupaten Bantaeng untuk terus meraih piala adipura.

Tahun ini terdapat lima cabang lomba yang dipertandingkan untuk memperebutkan kembali piala bergilir Festival Generasi Hijau. Kelima cabang tersebut adalah Eksplorasi Lingkungan Inovasi Siswa (ELIS), Cipta dan Baca Puisi, Rancangan Usaha Inovatif, Poster Digital, serta Pertunjukan Busana Kreatif.

Menariknya, setiap lomba membawa pesan lingkungan dengan pendekatan yang berbeda.

Melalui ELIS, misalnya, siswa ditantang mengubah barang bekas menjadi karya inovatif yang dilengkapi laporan, video, dan meja pameran. Sementara melalui Rancangan Usaha Inovatif, peserta didorong menghasilkan produk yang memberikan manfaat positif bagi lingkungan.

Pesan lingkungan juga hadir melalui seni. Peserta Cipta dan Baca Puisi menyampaikan gagasan mereka melalui karya sastra, sementara peserta Poster Digital mengolah kreativitas visual untuk menyampaikan pesan tentang lingkungan.

Tak kalah menarik, Pertunjukan Busana Kreatif mengajak peserta memanfaatkan limbah anorganik menjadi rancangan busana yang kemudian diperagakan di atas panggung.

Ketika Pelajar Tidak Hanya Berbicara, tetapi Berkarya Bagi pelajar, festival ini menjadi pengalaman belajar yang berbeda.

Lingkungan tidak hanya dibicarakan melalui teori di ruang kelas, tetapi diterjemahkan menjadi karya, inovasi, seni, dan aksi.

Hal tersebut sejalan dengan pesan Bupati Bantaeng yang menilai persoalan sampah sebagai salah satu tantangan lingkungan yang membutuhkan perhatian bersama, termasuk dari generasi muda. Ia pun mengajak sekolah dan pelajar untuk terus membangun kesadaran dalam menjaga lingkungan.

Semangat itu terlihat dalam kemeriahan Festival Generasi Hijau Jilid III. Para siswa hadir bukan hanya sebagai peserta lomba, tetapi sebagai generasi yang sedang belajar menemukan cara mereka sendiri untuk ikut menjaga bumi.

Dari barang bekas lahir inovasi. Dari limbah lahir karya. Dari kreativitas lahir kepedulian. Dan dari sekolah, tumbuh generasi yang diharapkan mampu menjadi penjaga lingkungan di masa depan.

Festival Generasi Hijau pun menjadi bukti bahwa pendidikan lingkungan dapat dikemas secara kreatif, menyenangkan, sekaligus bermakna.

Hadirkan Kolaborasi Dunia Pendidikan
Pembukaan festival turut dihadiri Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V H. Arafah H. Arafah, S.Pd., M.Pd., Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan Drs. H. Muslimin MM yang sekaligus Ketua Komite SMAN 1 Bantaeng, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bantaeng Muhammad Yusuf, Pengawas Pendamping Dra. Hj. Nuraeti, MM., para dewan juri, serta sejumlah kepala sekolah/perwakilan SMA, SMK, dan MA se-Wilayah V.

Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa gerakan menjaga lingkungan membutuhkan kolaborasi. Sekolah, pemerintah, guru, orang tua, dan terutama generasi muda memiliki peran yang saling melengkapi.

Festival Generasi Hijau Jilid III akhirnya bukan sekadar perhelatan tiga hari. Ia menjadi pesan bersama bahwa kepedulian terhadap lingkungan perlu dimulai dari sekolah, dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari, dan diwujudkan melalui tindakan nyata.

Nusantara lestari bukan hanya cita-cita. Ia membutuhkan generasi muda yang mau peduli, berpikir kreatif, dan bergerak mulai hari ini.

( UH )

Tinggalkan Balasan