Berita

Rasa Dulu Baru Bicara Rasa:KH Dr Syarifuddin Salami Siagian Kupas Jalan Syariat hingga Makrifat Menuju Pengenalan Allah

96
×

Rasa Dulu Baru Bicara Rasa:KH Dr Syarifuddin Salami Siagian Kupas Jalan Syariat hingga Makrifat Menuju Pengenalan Allah

Sebarkan artikel ini

 

Labuhanbatu Liputan 9.co

Suasana penuh kekhusyukan menyelimuti kegiatan silaturahmi dan tawajuh Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah Jalaliyah (TNAJ) yang rutin dilaksanakan setiap dua pekan dalam sebulan di kediaman Tuan Guru Mursyid Buya Almukarrom, Perumahan BHP, Jalan Baru.

Pada kesempatan tersebut, KH Dr. Syafaruddin Salami Siagian, S.H.I., M.H. menyampaikan tausiah bertema “Rasa Dulu Baru Bicara Rasa”, sebuah pesan spiritual yang mengajak jamaah untuk terlebih dahulu membersihkan hati dan merasakan kehadiran Allah sebelum berbicara tentang hakikat kehidupan dan perjalanan menuju-Nya.

Dalam tausiahnya, beliau menjelaskan bahwa perjalanan mengenal Allah SWT tidak dapat ditempuh secara instan. Seorang hamba perlu melewati empat dimensi utama, yaitu syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat.

Menurutnya, syariat merupakan pondasi sekaligus kendaraan yang mengantarkan seorang hamba menuju tujuan hidup yang hakiki. Syariat menjadi dasar dalam menjalankan seluruh ajaran Islam melalui ketaatan terhadap perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

“Syariat adalah fondasi. Ketika syariat dijalankan dengan baik, maka perjalanan menuju Allah akan memiliki arah yang benar,” ungkapnya.

Beliau juga mengingatkan pentingnya mengenal diri sebagai jalan untuk mengenal Sang Pencipta. Hal tersebut sejalan dengan ungkapan yang masyhur di kalangan ulama tasawuf, “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu” (Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya).

Tahapan berikutnya adalah tarekat, yakni jalan pembinaan ruhani yang membimbing seorang salik agar semakin dekat kepada Allah SWT. Dalam penjelasannya, beliau mengutip hadis Rasulullah SAW:

“Man salaka tharīqan yaltamisu fīhi ‘ilman sahhalallāhu lahu tharīqan ilal jannah,” yang bermakna, “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”

Selanjutnya adalah hakikat, yaitu tahap ketika seorang hamba semakin memahami makna terdalam dari ibadah dan menyaksikan kebesaran Allah melalui kejernihan hati. Pada fase ini, seseorang tidak hanya menjalankan syariat secara lahiriah, tetapi juga menghayati nilai-nilai batiniah yang terkandung di dalamnya.

Puncak perjalanan spiritual adalah makrifat, yakni mengenal Allah dengan keyakinan yang semakin mendalam melalui karunia dan petunjuk-Nya. Menurut KH Dr. Syafaruddin Salami Siagian, makrifat bukan sekadar pengetahuan, melainkan buah dari ketaatan, kesungguhan, keikhlasan, dan bimbingan Allah kepada hamba-Nya.

Beliau menegaskan bahwa keempat dimensi tersebut merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi. Syariat tanpa penghayatan batin akan terasa kering, sementara pembahasan hakikat dan makrifat tetap harus berpijak pada syariat yang benar.

Melalui tema “Rasa Dulu Baru Bicara Rasa”, beliau mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa memperbaiki hati, memperkuat ibadah, memperbanyak zikir, dan menjaga adab dalam perjalanan spiritual. Sebab, menurutnya, seseorang akan lebih mudah memahami hakikat kehidupan apabila terlebih dahulu membersihkan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kegiatan silaturahmi dan tawajuh TNAJ tersebut ditutup dengan doa bersama, memohon agar seluruh jamaah senantiasa diberikan keistiqamahan dalam menapaki jalan syariat, tarekat, hakikat, hingga mencapai makrifat kepada Allah SWT.

Wahyu Alzanuri

Tinggalkan Balasan