Berita

Iswanto Pengamat Sosial Ingatkan Dampak Kekerasan Psikologi pada Anak Lebih Berbahaya dan Berjangka Panjang

53
×

Iswanto Pengamat Sosial Ingatkan Dampak Kekerasan Psikologi pada Anak Lebih Berbahaya dan Berjangka Panjang

Sebarkan artikel ini

LAMONGAN —LIPUTAN9.CO

Seringkali kita hanya melihat luka fisik yang tampak secara kasat mata sebagai bukti adanya kekerasan. Padahal, ada luka lain yang jauh lebih dalam, lebih menyakitkan, dan sering kali luput dari perhatian — yaitu luka psikologis di dalam hati anak-anak.

Iswanto, yang merupakan pengamat sosial sekaligus tergabung di Lembaga Bantuan Hukum, mengingatkan masyarakat bahwa kerusakan akibat perlakuan salah secara emosional terhadap anak sebenarnya jauh lebih berbahaya dibandingkan luka luar.

“Penting kita sadari: mendidik tidak harus dengan kekerasan. Ingatlah, anak itu bagaikan kuncup bunga — jiwanya masih lembut, masih sedang tumbuh, dan butuh kasih sayang serta kesabaran, bukan ketakutan agar ia bisa mekar dengan indah,” ujar Iswanto.

“Luka fisik bisa sembuh dalam waktu beberapa hari atau minggu. Namun luka di hati, rasa takut, rendah diri, dan rasa tidak berharga itu bisa membekas bertahun-tahun, bahkan seumur hidup,” tambahnya.

Ia menjelaskan, dampak kekerasan psikologis sering kali tidak langsung terlihat. Anak mungkin tidak memar atau berdarah, namun perubahan perilaku perlahan mulai terlihat. Mereka yang dulunya ceria perlahan menjadi pendiam, menarik diri dari lingkungan, dan kehilangan semangat.

“Tanda yang paling sering diabaikan adalah ketika anak tiba-tiba enggan berangkat ke sekolah, menjadi murung, sering menyendiri, atau kehilangan nafsu makan. Banyak orang tua menganggap itu sekadar sifat anak yang sedang berubah, padahal itu bisa jadi adalah jeritan batin yang tak terucap,” lanjutnya.

Kondisi ini jika dibiarkan akan berdampak jangka panjang. Anak yang terus-menerus merasa tidak aman akan mengalami kesulitan berkonsentrasi dalam belajar, menurunnya kepercayaan diri, hingga gangguan kesehatan mental yang berpotensi terbawa hingga masa dewasa.

Iswanto menekankan, ketaatan yang lahir dari rasa takut tidak akan bertahan lama, namun kebaikan yang tumbuh dari rasa aman, kasih sayang, dan pemahaman akan membentuk karakter yang kuat seumur hidup.

“Anak yang merasa aman dan dicintai akan tumbuh menjadi pribadi yang berani, peduli, dan tangguh. Mari kita perhatikan anak-anak kita bukan hanya soal makan dan sekolahnya, tapi juga perasaan mereka. Karena hati yang terluka butuh waktu jauh lebih lama untuk pulih dibandingkan tubuh yang terluka,” pesan Iswanto

Reporter:.(Iswanto)

Tinggalkan Balasan