Oleh: Ismed Harahap – Jamaah TNAJ Bandar Tinggi
MADINA | LIPUTAN 9.CO
“Bismillahirrahmanirrahim”
Assalamualaikum, Warahmatullahi Wabarakatuh
Ada sebuah pertanyaan yang seharusnya membuat setiap orang yang mengaku beriman itu terdiam dan merenung dalam-dalam. Sebuah pertanyaan yang menjadi cermin, sudahkah kita benar-benar beriman?
Pertanyaan itu lahir dari pengalaman batin saya selama 4 tahun menjadi jamaah Tarekat Naqsabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah (TNAJ) dan hampir 20 kali mengikuti Suluk di Rumah Ibadah Suluk (RIS) Darul Falah, Desa Huta Puli, Kecamatan Siabu.
Suluk yang kami lakukan rutin setiap tanggal 25 pada bulan genap, selama 5 hari 5 malam. Dan demi Allah, setiap kali ada kesempatan, hati ini selalu rindu ingin kembali lagi. Ada apa sebenarnya di dalam Suluk itu?
MENGIKUTI SULUK ITU SANGATLAH MENYENANGKAN HATI
Mengikuti Suluk di Tariqot Naqsabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah TNAJ yang berpusat di Bandar Tinggi, Simalungun, Sumatera Utara, sangatlah menyenangkan hati para jamaahnya. Sebuah kesenangan yang tidak pernah kita temukan kapan pun dan di mana pun kita berada selama ini.

Saya, Ismed Harahap, adalah salah seorang jamaah tarekat tersebut. Saya ingin bersaksi di hadapan media, jauhnya rantau yang saya lalui dan pahit manisnya pengalaman hidup yang saya rasakan dalam mengarungi hidup ini, saya tidak pernah berpikir sama sekali akan menemukan atau bisa ikut menjadi jamaah Suluk.
Dikarenakan keputus-asaan dalam mengarungi kehidupan dan lemahnya pendidikan agama yang saya kuasai, saya pernah berpikir bahwa cita-cita dalam hidup ini mustahil akan dapat terwujud. Usia makin tua, yang jelas ajal kian hari makin dekat. Apakah saya akan gagal di dunia dan buta sama sekali untuk bekal menuju akhirat?
Berangkat dari pemikiran tersebut, selama kurang lebih 3 bulan setiap malam menjelang tidur, dalam hati saya selalu berdoa lirih, “Ya Allah, mungkin dalam hidup ini saya tidak mungkin lagi untuk mewujudkan cita-citaku, berikanlah saya petunjuk yang akan menuntunku agar bisa lebih dekat kepada-Mu.”

PERTEMUAN YANG MENGUBAH JALAN HIDUP
Dalam perjalanan doa selama 3 bulan tersebut, saya tidak menyangka, saya dipertemukan dengan seorang sosok yang boleh dikatakan di masa mudanya adalah mantan orang yang sering keluar masuk penjara. Namun di masa tuanya, beliau sangat istiqomah dalam menjalankan ibadah dan tidak peduli apa yang dikatakan orang kepadanya. Karena setelah beliau bertaubat, hampir semua pengajian sudah pernah diikutinya.
Namun berdasarkan pengakuannya yang jujur, setelah beliau mengikuti Suluk di Tariqot Naqsabandiyah Al Kholidiyah, beliau baru benar-benar menemukan ketenangan hati yang hakiki. Dan beliau tidak pernah lagi mencari-cari yang lain. Beliau berkata dengan mantap, “Ini Tarekat yang pas untuk saya.”
Dan ucapan itu menghujam ke dalam hati saya.
DI HADAPAN MURSYID, TIDAK ADA PROFESOR DAN KULI BANGUNAN
Setiap jamaah Tarekat Naqsabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah TNAJ yang pemula, baik ia seorang Profesor, Dokter, Camat, Bupati, Ustadz, Hafidz Qur’an,Alumni Pesantren,Jenderal, dan apapun itu jabatan dan pangkatnya, itu tidak ada sama sekali bedanya dengan kuli bangunan dalam menerima kaji suluk di hadapan Mursyid Tarekat Naqsabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah.
Semua sama. Semua duduk sama rendah, sama hina, sama fakir di hadapan Allah. Di sanalah kesombongan kita sebagai manusia dilucuti habis-habisan.
Dan sekarang, Alhamdulillah, saya sudah berjalan 4 tahun menjadi jamaah dan sudah hampir 20 kali mengikuti Suluk di RIS Darul Falah Desa Huta Puli Kecamatan Siabu. Saya lihat semua jamaah sama dengan saya, sama-sama menemukan ketenangan dan menemukan arti jati diri mereka yang sesungguhnya. Dan saya selalu berdoa agar selalu Istiqomah sampai akhir hayat.

BENGKEL HATI DAN RAHASIA BUKU YANG MATI
Bagi saya, ada logika sederhana yang harus kita pahami. Jika mobil, sepeda motor kita ingin kita perbaiki biar nyaman rasanya, maka kita akan membawanya ke bengkel, kepada ahlinya.
Tapi jika hati dan jiwa kita yang rusak, yang gelisah, yang tidak tenang, ingin kita perbaiki, maka bawalah ke bengkelnya hati. Ikutilah Suluk. Karena di sanalah kita mendapatkan ilmu untuk berzikir, ilmu memperbaiki hati.
Perlu kita ketahui bersama. Jika kita mempelajari zikir hanya melalui buku-buku, itu hanyalah sebatas pengetahuan di otak. Sedangkan zikir itu harus ada pembimbing. Mengapa? Karena dalam zikir itu ada rasa. Setiap yang punya rasa pasti memiliki ruh. Dan ruhaniah itu butuh pembimbing yang hidup.
Sedangkan belajar dari buku-buku tersebut sudah jelas kita ketahui, buku itu benda mati dan tidak memiliki rasa dan ruh. Mustahil ruhaniah kita yang hidup ini bisa dibimbing oleh benda mati. Inilah kekeliruan besar kita selama ini. Kita ingin hati yang hidup dibimbing oleh benda yang mati.
PUNCAK DARI SEGALA ZIKIR: HATI YANG BERGETAR
Dan di sinilah letak kebenaran zikir yang sesungguhnya yang saya temukan selama 20 kali Suluk di Huta Puli ini. Sesungguhnya Allah telah berfirman dengan sangat jelas, menjadi tolak ukur keimanan kita.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2)
Allahu Akbar! Ayat ini menjadi tamparan keras bagi kita semua.
Jadi, jika kita selama ini merasa telah beriman, coba kita tanya pada diri kita sendiri dengan jujur. Sudahkah bergetar hati kita jika Nama Allah kita sebut? Sudahkah gemetar qolbu kita ketika mendengar kalimat ALLAH?
Jika belum bergetar, maka iman kita masih sebatas di lisan, belum masuk ke dalam hati. Di sinilah sebenarnya kebenaran zikir tersebut.
Di dalam Tarekat Naqsabandiyah Al Kholidiyah Jalaliyah inilah kami dididik, bagaimana caranya agar qolbu ini selalu bergetar menyebut Nama Allah. Bagaimana caranya agar naik turunnya nafas ini selalu menyebut Nama Allah. Bagaimana caranya agar setiap detiknya, seluruh urat nadi kita menyebut Nama Allah. Bagaimana caranya agar setiap organ tubuh kita, dari ujung rambut sampai ujung kaki, semuanya berzikir menyebut Nama Allah.
Jika itu sudah terjadi, maka timbullah bermacam-macam rasa. Rasa yang tidak bisa dituliskan dengan kata-kata. Namun yang paling jelas terasa adalah rasa ketenangan jiwa yang luar biasa. Tenang yang hakiki.
Dan ini sesuai dengan janji Allah, sebuah garansi langsung dari Allah:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Allah sendiri yang berfirman, “Ingatlah Aku, maka dengan mengingat-Ku kamu akan tenang.”
Bukan kata Ustadz, bukan kata Mursyid, tapi ini firman Allah. Jika kita sudah mengingat-Nya dengan berzikir yang benar, dengan bimbingan yang benar, hati kita PASTI tenang. Ini garansi Allah.
JAMINAN TERAKHIR: PANGGILAN UNTUK JIWA YANG TENANG
Dan bukan hanya ketenangan di dunia yang Allah berikan. Allah memberikan garansi yang jauh lebih besar, jaminan untuk akhirat. Bagi jiwa-jiwa yang telah tenang karena zikir, Allah telah menyiapkan panggilan yang sangat indah, panggilan yang dirindukan oleh setiap mukmin.
Allah berfirman dengan penuh kasih sayang:
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30)
Allahu Akbar!
Inilah puncak dari segalanya. Dari hati yang bergetar karena menyebut Nama Allah, lahirlah ketenangan. Dari ketenangan itu, lahirlah jiwa yang mutmainnah. Dan jiwa yang mutmainnah itulah yang akan dipanggil dengan lembut oleh Allah untuk kembali kepada-Nya dengan hati yang ridha dan diridhai, untuk kemudian dipersilahkan masuk ke dalam Surga Jannatun Na’im.
Maka, ambillah apa yang telah Allah janjikan di dalam Surga Jannah itu.
Inilah yang saya cari selama ini. Inilah yang tidak pernah saya temukan di rantau mana pun. Ternyata bengkelnya ada di dekat kita, di RIS Darul Falah Huta Puli, Siabu. Di dalam Suluk TNAJ.
Semoga kita semua dipanggil dengan panggilan itu. Aamiin Ya Rabbal Alamin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi wa barakatuh.








