MANDAILING NATAL– LIPUTAN 9.CO
Perjalanan hidup manusia sering kali berawal dari tempat, waktu, dan momentum yang tidak pernah disangka-sangka. Sering pula, hidayah dan ketenangan batin datang di tengah kesibukan duniawi yang keras.
Inilah kisah nyata yang dialami oleh Nis’at Shidiq Nasution bersama sahabat sekaligus asisten setianya, Muhammad Arif.
Shidiq, sapaan akrab pria asal Panjaringan ini, dikenal luas sebagai Kepala Kantor Perwakilan PT Antar Lintas Sumatera (ALS) Panyabungan sekaligus Direksi Wilayah Mandailing Natal, sebuah perusahaan otobus legendaris yang menjadi urat nadi transportasi darat di tanah air, khususnya di Sumatera Utara.
Di sisi lain, Muhammad Arif adalah sosok rekan kerja sekaligus asisten yang selalu mendampinginya dalam berbagai aktivitas profesional di ALS.
Namun, di balik kesibukan mereka mengawal operasional transportasi darat, tersimpan sebuah kisah transformasi batin yang bermula dari sudut yang jauh dari hingar-bingar perkotaan: kawasan tambang emas rakyat di Lubuk Sikaping, Sumatera Barat.
Kisah bermula ketika Shidiq diajak oleh Arif yang berasal dari Pasar Maga, Kecamatan Lembah Sorik Marapi, untuk terjun ke usaha penambangan emas rakyat di Lubuk Sikaping.
Di tengah peluhnya kerja keras mengais rezeki di area tambang, takdir mempertemukan keduanya dengan para khalifah dari Thariqah Naqsyabandiyah al Khalidiyah Jalaliyah (TNAJ) Simalungun, perwakilan Pasaman. Pertemuan inilah yang kemudian menjadi titik balik (turning point) yang mengubah total arah hidup mereka.
Melihat kesempatan tersebut sebagai anugerah, petunjuk, dan bentuk kasih sayang Allah SWT, keduanya tidak menyia-nyiakan waktu. Tanpa keraguan sedikit pun, Shidiq dan Arif memutuskan untuk melangkah memasuki jalan ruhani.
Kini, sudah delapan bulan lamanya mereka aktif mengamalkan ajaran tarekat. Bahkan, Shidiq yang merupakan mantan anggota DPRD Madina dari Partai Amanat Nasional priode 2019-2024 telah menunaikan ibadah suluk sebanyak dua kali, didampingi secara setia oleh Arif yang senantiasa membersamainya, baik dalam dinamika dunia kerja maupun dalam perjalanan spiritual.
Keputusan untuk mendalami jalan tasawuf ini membawa dampak yang sangat signifikan bagi ketenteraman jiwa mereka. Jika sebelumnya ritme hidup kerap diliputi oleh kegelisahan, tekanan, dan penatnya pikiran duniawi, kini keduanya merasakan ketenangan batin yang luar biasa serta keyakinan yang kian kokoh kepada Sang Pencipta.
“Alhamdulillah, makin tenang menjalani hidup ini. Kalau dulu kurang tenang, banyak pikiran,” ungkap Shidiq saat mengikuti Suluk di Rumah Ibadah Suluk Darul Falah, Huta Puli, Rabu (28/10/2026).
Senada dengan sang pimpinan, Arif juga merasakan hal yang sama. Kedekatan dengan tarekat kian menebalkan keimanan dan keyakinan mereka kepada Allah SWT, menjadikan setiap ujian hidup terasa lebih ringan untuk dihadapi.
Bagi Shidiq dan Arif, pengalaman spiritual ini meninggalkan kesan yang sangat mendalam, sebuah dimensi kebahagiaan batin yang belum pernah mereka jumpai pada fase kehidupan sebelumnya. Berjalan beriringan, bahu-membahu dalam urusan profesional sehari-hari sekaligus bersama-sama memperdalam ilmu tarekat, keduanya membulatkan tekad untuk terus istiqomah.
Di bawah bimbingan guru dan perguruan mereka, dengan sisa usia yang dianugerahkan, keduanya menyimpan satu cita-cita mulia: konsisten meniti jalan suluk hingga mencapai puncak tujuan akhir, yakni melaksanakan khataman di Bandar Tinggi. Sebuah perjalanan dari kerasnya hidup dan debu tambang, menuju kelembutan cahaya Ilahi.
SM. Muhammad Zulfan S.Sos












