Regional

Akses Vital Jadi TPS Liar di Jembatan Nepa Sampang, Kecamatan Banyuates Terkesan Tutup Mata

82
×

Akses Vital Jadi TPS Liar di Jembatan Nepa Sampang, Kecamatan Banyuates Terkesan Tutup Mata

Sebarkan artikel ini

SAMPANG,LIPUTAN9.CO – Akses vital masyarakat di wilayah Kecamatan Banyuates, Kabupaten Sampang,Jawa Timur, tepatnya di sekitar Jembatan Nepa, kini berubah fungsi menjadi Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar.

Tumpukan sampah rumah tangga hingga limbah plastik terlihat menggunung, menutup sebagian badan jalan dan mencemari lingkungan sekitar. Kondisi ini memantik kritik tajam dari warga dan aktivis yang menilai pihak kecamatan seolah tutup mata.

Pantauan liputan9.co di lokasi menunjukkan sampah dibuang secara bebas di bahu jalan dan area jembatan yang menjadi jalur utama atau akses jalan nasional penghubung antar desa. Bau menyengat tercium kuat, sementara air di bawah jembatan tampak tercemar.

Ironisnya, lokasi tersebut kerap dilalui pelajar, pedagang, hingga kendaraan roda empat setiap hari.

“Ini akses vital, bukan tempat sampah. Tapi sudah berbulan-bulan dibiarkan. Kalau hujan, sampah hanyut ke sungai, kalau panas baunya luar biasa,” ujar Supandi warga setempat, Rabu (17/12/2025).

Warga menilai pembiaran ini mencerminkan lemahnya pengawasan pemerintah kecamatan, khususnya dalam penegakan kebersihan dan tata lingkungan. Meski persoalan sampah kerap dikeluhkan, hingga kini belum terlihat langkah konkret seperti pemasangan larangan, penertiban, maupun penyediaan TPS resmi yang memadai.

Kritik lebih keras datang dari kalangan aktivis lingkungan dan sosial di Pantura Sampang. Mereka menyebut kondisi ini sebagai bentuk kelalaian sistemik yang berpotensi menimbulkan dampak serius, mulai dari pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan, hingga kerusakan infrastruktur jembatan.

“Ini bukan persoalan sepele. Ketika akses vital dibiarkan jadi TPS liar, artinya ada pembiaran. Kecamatan seharusnya hadir, bukan diam. Kalau terus dibiarkan, kami siap dorong laporan ke instansi pengawas dan DLH,” tegas Pandi seorang aktivis Pantura.

Menurutnya, pemerintah kecamatan Banyuates memiliki peran strategis dalam melakukan koordinasi lintas sektor, termasuk dengan desa dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Namun hingga kini, peran tersebut dinilai tidak berjalan maksimal.

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak Kecamatan Banyuates belum memberikan keterangan resmi meski upaya konfirmasi telah dilakukan. Warga berharap ada respons cepat dan tindakan nyata, bukan sekadar wacana.

Masyarakat mendesak pemerintah segera menertibkan TPS liar tersebut, membersihkan area jembatan, serta menyediakan solusi pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Jika tidak, persoalan ini dikhawatirkan akan terus berulang dan menjadi bom waktu lingkungan di wilayah Banyuates.

Tinggalkan Balasan