Oleh ; Jema’ah TNAJ
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada hamba-hamba-Nya untuk menempuh jalan menuju keridhaan-Nya. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan para pewaris beliau hingga akhir zaman.
Dalam ajaran Thoriqat Naqsyabandiyah ada sebuah ritual yang harus dilakukan oleh seorang salik. Suluk merupakan salah satu amalan penting dalam dunia tasawuf dan thoriqat.
Dalam ajaran Thariqat Naqsyabandiyah, suluk bukan sekadar berdiam diri di tempat tertentu, tetapi merupakan perjalanan ruhani seorang salik untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui dzikir, muraqabah, mujahadah, dan penyucian jiwa.
Makalah ini disusun untuk memberikan pemahaman dan penjelasan mengenai hakikat suluk, agar tidak salah menilai tentang kegiatan suluk serta dalil dalam Al-Qur’an dan Sunnah, tujuan, adab, serta manfa’atnya dalam kehidupan seorang hamba yang ingin mencapai Ma’rifatullah.
📌 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu tugas manusia diciptakan oleh Allah adalah dengan tujuan untuk beribadah kepada-Nya.
Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala di dalam Al Qur’an:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat ayat : 56)
Dalam perjalanan menuju kepada Allah, manusia sering terhalang oleh hawa nafsu, syahwat, dan kecintaan berlebihan kepada dunia. Oleh sebab itu diperlukan latihan latihan ruhani yang disebut suluk agar hati menjadi bersih dan menjadi lebih dekat kepada Allah.
B. Rumusan Masalah
– Apa pengertian suluk…?
– Apa dasar suluk dalam Islam….?
– Bagaimana suluk dalam Thariqat Naqsyabandiyah…?
– Apa tujuan dan manfa’at suluk…?
📌 BAB II
PENGERTIAN SULUK
A. Pengertian Bahasa
Kata Suluk berasal dari bahasa Arab:
السُّلُوكُ : yang berarti: (“Menempuh jalan.”)
Suluk Berasal dari kata:
سَلَكَ – يَسْلُكُ – سُلُوكًا
yang berarti: Berjalan, menempuh, memasuki suatu jalan.”
Allah berfirman:
فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا
Artinya: “Maka tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan bagimu.”
(QS. An-Nahl ayat : 69)
Ayat ini dengan jelas memerintahkan kepada manusia agar Mencari jalan yang mudah untuk berjalan kepada Allah.
B. Pengertian Istilah
Menurut ulama tasawuf:
Suluk adalah perjalanan seorang hamba menuju Allah melalui penyucian jiwa, dzikir, mujahadah, dan bimbingan seorang mursyid.
Orang yang menjalani suluk disebut:
السَّالِكُ (As-Salik)
yang berarti: Orang yang sedang menempuh jalan menuju Allah.”
📌 BAB III
DASAR SULUK DALAM AL- QUR’AN DAN HADIST
1. Perintah untuk Berdzikir
Allah berfirman dalam Al Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak.” (QS. Al-Ahzab ayat : 41)
Jadi dalam kegiatan selama bersuluk maka seorang salik akan di ajarkan cara cara berzikir dengan benar dan dilatih untuk memperbanyak zikir sesuai perintah ayat di atas.
2. Perintah untuk Membersihkan Jiwa.
Allah berfirman dalam Al Qur’an:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
Artinya: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.” (QS. Asy-Syams ayat : 9)
Di dalam suluk seorang salik juga di ajarkan untuk membersihkan jiwa dari segala sifat sifat yang tercela melalui mujahadah dan riyadhoh.
3. Hadis Tentang Ihsan
Rasulullah ﷺ bersabda:
Hadis tentang Ihsan yang sangat masyhur adalah bagian dari Hadis Jibril:
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ: أَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ. قَالَ النَّبِيُّ ﷺ:
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
Artinya: “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” ( HR Bukhari dalam Shahih Bukhari)
– Makna Ihsan :
Para ulama menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan dua maqam:
– Maqam Musyāhadah (المشاهدة)
Beribadah seakan-akan melihat Allah dengan mata hati.
Hati selalu hadir mengagungkan Allah.
– Maqam Murāqabah (المراقبة)
Jika belum mencapai musyāhadah, maka yakinlah bahwa Allah selalu melihat, mendengar, dan mengetahui segala keadaan hamba.
Hadis ini menjadi salah satu landasan utama dalam pendidikan tasawuf dan tazkiyatun nafs, karena tujuan perjalanan ruhani seorang salik adalah mencapai derajat ihsan, yaitu senantiasa merasa dekat dan diawasi oleh Allah dalam setiap keadaan.
Dalil pendukung:
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Artinya:
“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hadid ayat : 4)
📌 BAB IV
SULUK DALAM THARIQAT NAQSYABANDIYAH
A. Pengertian Suluk Thoriqat Naqsyabandiyah
Dalam ajaran Thariqat Naqsyabandiyah, suluk adalah latihan ruhani yang dilakukan secara intensif di bawah bimbingan seorang syekh yang mursyid untuk membersihkan hati dan memperkuat hubungan dengan Allah.
Dalam ajaran THORIQAT NAQSYABANDIYAH Biasanya suluk dilakukan:
10 hari, 20 hari dan 40 hari,
Atau sesuai petunjuk dari mursyid.
B. Tujuan Suluk dalam Thoriqat Naqsyabandiyah adalah untuk :
– Membersihkan hati dari penyakit batin.
– Menguatkan dzikir kepada Allah.
– Menumbuhkan muraqabah.
– Memperoleh ketenangan jiwa.
– Mendekatkan diri kepada Allah.
– Menempuh jalan Ma’rifatullah.
C. Amalan Amalan Di dalam Suluk
selama dalam bersuluk seorang salik akan di ajarkan tingkatan tingkatan zikir oleh seorang Mursyid. Adapun zikir yang di ajarkan selama dalam bersuluk adalah
1. Dzikir Ismu Dzat
Menyebut:
الله … الله … الله
secara khafi (dalam hati) untuk mengisi 7 Maqom Latif untuk membersihkan hati dari segala penyakit penyakit bathin.
2. Dzikir Nafi Isbat
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ
untuk membersihkan hati dari selain Allah.
3. Muraqabah
Tafakur untuk Merasa selalu berada dalam pengawasan Allah.
4. Rabithah
Menghubungkan hati kepada syekh mursyid sebagai wasilah untuk memperoleh bimbingan ruhani.
5. Muhasabah
Menghitung dan mengevaluasi amal setiap hari.
6. Berkhabar hasil zikir
Selama bersuluk maka seorang salik akan di periksa oleh syekh yang memimpin suluk 3 hari sekali , untuk mengetahui tentang perasaan dan pemandangan bathin nya selama Berzikir.
Syekh akan menilik dengan pandangan kasafnya bagaimana keadaan zikir salik yang bersuluk.
➡️ Catatan Penting: Bahwa semua tingkatan tingkatan zikir yang dilakukan oleh seorang salik selama di dalam suluk harus yang di ajarkan oleh mursyid dan dengan izin serta dalam pengawasan Mursyid.
📌 BAB V
ADAB ADAB SULUK
1. Niat yang ikhlas
Hendaklah Semua amalan dikerjakan semata-mata ikhlas karena Allah.
2. Taat dan patuh Kepada Mursyid
Harus mengerjakan semua amalan yang di ajarkan oleh Mursyid, Selama tidak bertentangan dengan syariat.
3. Selalu Menjaga Wudhu
Berusaha untuk sebisa mungkin selalu dalam keadaan suci dan berwudhuk agar hampir para masyaikh dan malaikat.
4. Menjaga Lisan
Menghindari berkata kata yang tidak berguna terutama : Ghibah, Fitnah, Dusta dan Perdebatan
5. Menjaga Pandangan
Menjaga pandangan dari segala yang dilarang dan Menahan diri dari hal-hal yang melalaikan hati
6. Memperbanyak Diam
Memperbanyak diam , dan lebih utama menghadirkan hati untuk mengingat Allah.
7 Meninggalkan amalan amalan wirid wirid sunat yang lain dan Mengerjakan zikir yang di ajarkan oleh Mursyid.
📌 BAB VI
SYARAT SYARAT UNTUK BERSULUK
Syarat-Syarat untuk Bersuluk dalam Thoriqat Naqsyabandiyah .
1. Memiliki niat yang Ikhlas.
Tujuan suluk harus semata-mata mencari ridha Allah, bukan mencari karamah, kedudukan, atau pujian manusia.
Dalil:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
Artinya:
“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”
(QS. Al-Bayyinah ayat : 5)
2. Sudah berumur Aqil balig.
Seorang salik yang hendak bersuluk harus sudah berusia Aqil balig
3. Memiliki Akidah yang Benar
Suluk harus dibangun di atas akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah dan tauhid yang lurus.
Tanpa akidah yang benar, perjalanan ruhani dapat menyimpang.
4. Membawa bekal yang halal dan suci.
Seorang salik yang hendak berniat suluk hendaklah membawa bekal yang diperoleh dari cara yang halal lagi suci.
Sebab sesuatu harta dan bekal yang dibawa dari hasil SYUBAHAT apalagi yang haram akan berpengaruh kepada zikir.
Rasulullah Saw bersabda:
إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا
Artinya:
“Sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim)
5. Memiliki Mursyid yang Membimbing
Dalam tradisi Thariqat Naqsyabandiyah, suluk dilakukan di bawah bimbingan seorang syekh mursyid.
para ulama tasawuf berkata :
مَنْ لَا شَيْخَ لَهُ فَالشَّيْطَانُ شَيْخُهُ
Artinya:
“Barang siapa tidak mempunyai guru, maka setanlah yang menjadi gurunya.”
6. Bersedia Meninggalkan Kesibukan Dunia Sementara.
Ketika suluk berlangsung, seorang salik hendaknya memusatkan perhatian hanya kepada ibadah kepada Allah, zikir, muraqabah, dan muhasabah.
Oleh sebab itu hendaknya di selesaikan segala sesuatu yang dapat membimbangkan takkala bersuluk , terutama bekal untuk keluarga yang ditinggalkan.
📌 BAB VII
HAKIKAT SULUK
Hakikat suluk bukanlah berpindah tempat, tetapi berpindahnya keadaan hati.
Hijrah dalam Syariat maksudnya adalah Berpindah Dari segala perbuatan maksiat menuju taat kepada Allah.
Hijrah dalam Thariqat maksudnya adalah :
Berpindah dari hati yang selalu lalai menuju kepada hati yang selalu berdzikir.
Hijrah dalam artian Hakikat maksudnya adalah:
Berpindah Dari bergantung hati kepada makhluk menuju hanya bergantung kepada Allah.
Hijrah dalam makna Ma’rifat adalah:
Menyaksikan seluruh kekuasaan, ilmu, dan kehendak semua berasal hanya dari Allah semata.
Para ulama tasawuf mengatakan:
السُّلُوكُ مِنَ النَّفْسِ إِلَى اللهِ
Artinya:
“Suluk adalah perjalanan dari diri menuju Allah.”
📌 BAB VII
APAKAH NABI MENGAJARKAN SULUK…?
Ya, jika yang dimaksud suluk adalah perjalanan ruhani untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah, dzikir, mujahadah (melawan hawa nafsu), khalwat (menyendiri untuk beribadah), dan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), maka hakikat suluk memang diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ.
Namun perlu dipahami bahwa istilah “suluk” sebagai sebuah sistem tharekat baru dikenal dan dikembangkan oleh para ulama tasawuf setelah masa Rasulullah ﷺ. Adapun dasar-dasar yang di kerjakan di dalam suluk telah ada sejak zaman Nabi.
Dalil-Dalil Dasar Suluk dalam Sunnah
. Tahannuts (Khalwat) Nabi di Gua Hira
Sebelum diangkat menjadi Rasul, Nabi ﷺ sering berkhalwat di Gua Hira untuk beribadah dan bertafakkur.
Dari Aisyah binti Abu Bakar berkata:
“Kemudian beliau suka menyendiri (berkhalwat) di Gua Hira dan beribadah di sana beberapa malam.” (HR. Shahih al-Bukhari)
Ini menjadi dasar amalan khalwat dalam suluk.
2. Perintah Berdzikir Kepada Allah
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak.”
(QS. Al-Ahzab ayat : 41)
Dzikir merupakan inti perjalanan suluk.
3. Ihsan Sebagai Tujuan Suluk
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَنْ تَعْبُدَ اللّٰهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
Artinya:
“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Shahih Muslim dan Shahih al-Bukhari)
Maqam ihsan inilah yang menjadi tujuan utama suluk.
4. Mujahadah dan Penyucian Jiwa
Allah berfirman:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
Artinya:
“Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut ayat : 69)
Ayat ini menjadi dasar mujahadah dalam suluk.
Kesimpulan
Nabi Muhammad ﷺ memang tidak mengajarkan suluk dalam bentuk sistem tharekat yang terstruktur sebagaimana yang dikenal sekarang (misalnya suluk 10 hari, 20 hari, atau 40 hari).
Namun beliau mengajarkan seluruh dasar suluk, yaitu:
– Dzikir kepada Allah
– Khalwat untuk beribadah
– Muraqabah (merasa diawasi Allah)
– Tazkiyatun nafs (penyucian jiwa)
– Mujahadah melawan hawa nafsu
– ihsan dan ma’rifat kepada Allah
Karena itu, para ulama tasawuf menjelaskan bahwa suluk bukanlah tujuan, melainkan sarana untuk memperkuat ibadah, memperbanyak dzikir, membersihkan hati, dan mendekatkan diri kepada Allah, selama tetap berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
📌 BAB VIII
MANFA’AT SULUK
Suluk yang dikerjakan dengan ikhlas akan membawa banyak manfaat dan perubahan dalam diri.
Manfaat suluk Bagi Hati :
– Hati menjadi lembut.
– Hati menjadi tenang.
– Hati mudah khusyuk.
Manfaat suluk bagi Akhlak :
– Sikap akan menjadi Lebih sabar.
– Ahlak akan menjadi Lebih tawadhu.
– Berbuat sesuatu akan lebih ikhlas.
Manfaat suluk Bagi Ruhani :
– Bertambah cinta kepada Allah.
– Bertambah cinta kepada Rasulullah ﷺ.
– Memperkuat keyakinan dan tawakal.
Allah berfirman:
﴿ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ﴾
Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
PENUTUP
Kesimpulan
Suluk dalam ajaran Thariqat Naqsyabandiyah merupakan sarana pendidikan ruhani untuk membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah. Melalui dzikir, muraqabah, rabithah, mujahadah, dan bimbingan mursyid, seorang salik dilatih untuk mencapai kesucian jiwa dan mengenal Tuhannya dengan lebih dekat.
Namun tujuan akhir bersuluk bukanlah untuk mendapatkan karomah atau mendapatkan keistimewaan lahiriah, melainkan tercapainya penghambaan yang sempurna kepada Allah, sehingga seorang hamba senantiasa hidup dalam dzikir, muraqabah, dan mahabbah kepada-Nya.
Motto Suluk Naqsyabandiyah
دَوَامُ الْعُبُودِيَّةِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا مَعَ دَوَامِ الْحُضُورِ مَعَ اللهِ
“Melanggengkan penghambaan kepada Allah lahir dan batin, disertai kehadiran hati bersama Allah setiap saat.”
Wassalam.
Cp
#suluk
#ajaran
#thoriqat
#tnajbtsi
#fbpro
@sorotan












