Regional

Tragis di Pesisir Nepa Sampang, Banjir Rob Rusak Kuburan, Warga Minta Pemerintah Turun Tangan

76
×

Tragis di Pesisir Nepa Sampang, Banjir Rob Rusak Kuburan, Warga Minta Pemerintah Turun Tangan

Sebarkan artikel ini

SAMPANG,LIPUTAN9.CO – Banjir rob kembali melanda kawasan pesisir Dusun Menangguh, Desa Nepa, Kecamatan Banyuates, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur.

Air laut pasang yang terjadi sejak beberapa hari terakhir merendam pemukiman warga hingga area pemakaman umum.

Kondisi ini menimbulkan keprihatinan mendalam karena banyak makam warga dilaporkan terkikis bahkan sebagian rusak akibat terjangan air laut.

Pantauan di lokasi, Sabtu, (10/1/2026) sore, menunjukkan air laut naik hingga masuk ke halaman rumah warga, jalan desa, dan pemakaman.

Sejumlah nisan tampak miring, sebagian kuburan ambrol, bahkan ada liang lahat yang terbuka karena tanah tergerus gelombang pasang.

Seorang warga setempat, Idi (54), mengaku kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama dan semakin parah setiap tahunnya.

“Dulu air laut tidak sampai ke makam, sekarang sudah menggerus banyak kuburan. Kalau tidak segera ditangani, kami khawatir makin banyak makam rusak,” ujarnya dengan nada cemas.

Hal serupa disampaikan Siti (41), warga pesisir lainnya. Ia mengungkapkan bahwa banjir rob tak hanya mengancam tempat tinggal, tetapi juga melukai perasaan warga karena makam keluarga mereka ikut terdampak.

“Ini bukan hanya soal rumah, tapi soal penghormatan kepada leluhur kami. Kuburan orang tua kami sekarang terendam dan rusak,” tuturnya.

Selain merusak pemakaman, banjir rob juga mengganggu aktivitas ekonomi warga. Banyak nelayan terpaksa menunda melaut karena akses jalan ke tambatan perahu terendam, sementara sebagian rumah warga mulai mengalami kerusakan pada pondasi dan dinding akibat genangan air asin.

Warga berharap pemerintah daerah dan provinsi Jawa Timur segera turun tangan dengan membangun tanggul permanen atau sistem pengamanan pantai yang lebih kuat.

Selama ini, upaya penanganan hanya bersifat sementara dengan pemasangan karung pasir dan tanggul darurat yang tak mampu menahan derasnya air laut.

“Kami tidak minta yang muluk-muluk, cukup ada tanggul yang kuat supaya air laut tidak terus masuk ke desa dan merusak makam serta rumah kami,” tegas Idi.

Hingga berita ini diturunkan, warga masih berjibaku menyelamatkan barang-barang berharga dan memperbaiki kuburan keluarga yang terdampak.

Mereka berharap tragedi ini menjadi perhatian serius seluruh pihak sebelum kerusakan semakin meluas.

Tinggalkan Balasan