Mandailing Natal – Liputan9.co
Kontingen Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menorehkan prestasi membanggakan pada ajang Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah (Porsadin) VII tingkat Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Kontingen Madina berhasil membawa pulang 17 piagam penghargaan dari kompetisi yang mempertemukan para santri diniyah tersebut.
Tak hanya itu, lima peserta kontingen Madina juga berhasil lolos untuk mewakili Provinsi Sumatera Utara pada ajang Porsadin tingkat nasional yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada 12–14 November 2026.
Prestasi tersebut menjadi kebanggaan bagi para peserta, pembina, dan pihak-pihak yang telah berjuang mengharumkan nama Kabupaten Mandailing Natal di tingkat provinsi.
Namun, di balik capaian itu, muncul sorotan mengenai dukungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madina terhadap pemberangkatan kontingen yang membawa nama daerah tersebut.
Di tengah persoalan dukungan pembiayaan, pengurus Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Madina mengaku tetap berupaya agar kontingen dapat mengikuti perlombaan. Bahkan, menurut Ketua FKDT Madina, sebagian kebutuhan kegiatan harus ditanggung menggunakan dana pribadi.
FKDT Sebut Sudah Berulang Kali Berkoordinasi
Ketua FKDT Madina, Muhammad Daud Lubis, menjelaskan bahwa pihaknya telah berupaya meminta dukungan pemerintah daerah sejak pelaksanaan Porsadin tingkat kabupaten hingga tingkat Provinsi Sumatera Utara.
Ia mengatakan, sekitar satu bulan sebelum keberangkatan kontingen ke tingkat provinsi, FKDT telah mengajukan surat permohonan audiensi. Namun, menurutnya, audiensi baru terlaksana sekitar satu minggu sebelum keberangkatan.
Dalam audiensi tersebut, kata Daud, hadir Bupati, Wakil Bupati, Sekretaris Daerah, serta Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra) Madina.
Menurut Daud, salah satu hasil pembahasan dalam pertemuan itu adalah arahan agar FKDT mengupayakan penggunaan bus milik SMA Negeri 1. Namun, setelah surat disampaikan, pihak sekolah disebut tidak dapat menyediakan bus karena kendaraan tersebut akan digunakan untuk keperluan lain.
“Setelah kami koordinasi dengan pihak Kabag, mereka bilang masih berusaha. Tiga hari sebelum keberangkatan kami koordinasi lagi, jawabannya tetap masih berusaha. Sampai hari keberangkatan belum ada jawaban, sehingga kami memutuskan mencari jalan lain,” ujar Daud dalam keterangannya.
Ia menyebutkan, keputusan mencari alternatif pemberangkatan diambil karena waktu semakin mendesak, sementara kendaraan dan biaya yang dibutuhkan belum memperoleh kepastian.
Daud juga mengungkapkan bahwa persoalan dukungan serupa telah mereka hadapi ketika menyelenggarakan Porsadin tingkat kabupaten. Menurutnya, pengurus FKDT harus mengeluarkan dana pribadi dalam jumlah besar agar kegiatan tersebut tidak dibatalkan.
FKDT Nilai Upaya Bantuan Belum Memberikan Hasil
Daud mengakui pihaknya mengetahui bahwa Bagian Kesra Madina berupaya mencari bantuan. Namun, ia menilai upaya tersebut belum menghasilkan dukungan konkret hingga menjelang keberangkatan kontingen.
Ia mengatakan, setelah audiensi dengan Bupati Madina, FKDT terus menjalin komunikasi dengan Kabag Kesra. Bahkan, menurutnya, komunikasi masih berlangsung hingga tiga hari sebelum keberangkatan.
Selain itu, Daud menyebut FKDT telah berupaya meminta bantuan kepada PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP) sebanyak enam kali sesuai arahan Bupati. Namun, menurutnya, upaya tersebut belum membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan.
“Tanggapan kami, pihaknya berupaya. Upaya itu bukan hanya sekarang, mulai tingkat kabupaten sampai selesai provinsi tetap berupaya, tetapi hasilnya nol,” ungkapnya.
Karena kebutuhan pemberangkatan belum mendapatkan kepastian hingga dua hari menjelang keberangkatan, Daud mengatakan pihaknya menyampaikan persoalan tersebut kepada Ketua DPD Partai Golkar Madina, Aswin Parinduri.
Menurut Daud, Aswin menyatakan kesediaannya membantu mencarikan solusi apabila tidak ada dukungan lain. Kontingen akhirnya diberangkatkan menggunakan bus ALS dengan bantuan DPD Partai Go
Menurut Daud, Aswin menyatakan kesediaannya membantu mencarikan solusi apabila tidak ada dukungan lain. Kontingen akhirnya diberangkatkan menggunakan bus ALS dengan bantuan DPD Partai Golkar Madina.
Dengan demikian, berdasarkan keterangan Ketua FKDT, keberangkatan kontingen terlaksana berkat bantuan pihak di luar Pemkab Madina setelah upaya koordinasi yang mereka lakukan belum menghasilkan kepastian pembiayaan.
Kabag Kesra: Tidak Ada Anggaran Khusus Porsadin
Terpisah, Kabag Kesra Madina, Rahmad Hidayat, menjelaskan bahwa FKDT sebelumnya telah melakukan audiensi dengan Bupati Madina. Dalam pertemuan tersebut, menurut Rahmad, Bupati menyampaikan bahwa pemerintah daerah akan membantu.
Rahmad mengatakan, setelah audiensi, pihaknya berupaya mencari sumber pendanaan alternatif dengan mengajukan proposal permohonan bantuan kepada sejumlah perusahaan di wilayah Madina.
Namun, menurutnya, baru dua hari setelah surat permohonan dilayangkan, muncul narasi di media sosial TikTok yang menyebut Pemkab Madina tidak memiliki anggaran dan menelantarkan kontingen Porsadin.
“Di mana kita telantarkan? Kita kan sudah berupaya mencari solusi terkait biaya pemberangkatan Porsadin, sementara surat baru kita layangkan dan tim kabarnya akan berangkat empat hari ke depan,” ujar Rahmad.
Ia juga menyayangkan tidak adanya komunikasi lanjutan dari FKDT untuk menanyakan perkembangan permohonan bantuan tersebut sebelum muncul pemberitaan bahwa kontingen diberangkatkan oleh pihak nonpemerintah.
“Tidak ada surat permohonan untuk pemberangkatan Porsadin ke Pemda Madina,” katanya.
Terkait ketersediaan anggaran, Rahmad mengakui bahwa Bagian Kesra Madina tidak memiliki anggaran khusus untuk pembiayaan pemberangkatan Porsadin pada tahun 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan efisiensi anggaran dan tidak adanya pengusulan pembiayaan pada tahun sebelumnya.
“Dana bantuan untuk Porsadin tidak ada dianggarkan pada tahun sebelumnya, itu menurut laporan staf saya. Saya kan baru menjabat di sini,” jelasnya.
Rahmad menegaskan, pihaknya tidak bermaksud mengabaikan FKDT. Ia menyebut bantuan hibah sebesar Rp25 juta telah diberikan kepada FKDT pada Maret 2026.
“Buktinya, pada Maret lalu kita telah memberikan bantuan hibah sebesar Rp25 juta kepada FKDT,” ujarnya.
Meski tidak memiliki anggaran khusus untuk pemberangkatan Porsadin tahun ini, Rahmad mengatakan pihaknya tetap berupaya mencari dukungan melalui proposal kepada sejumlah perusahaan.
Lima Peserta Lolos Nasional, FKDT Siap Tanggung Biaya Sendiri
Mengenai kelolosan lima peserta ke tingkat nasional di Jakarta pada 12–14 November 2026, Rahmad menyampaikan apresiasi atas prestasi kontingen Madina.
Ia juga menyatakan terbuka untuk kembali berkomunikasi dengan FKDT guna membahas kemungkinan dukungan bagi keberangkatan para peserta ke tingkat nasional.
“Kita membuka diri dan siap membantu asalkan mereka mau membuka komunikasi dengan kami,” tutupnya.
Sementara itu, Ketua FKDT Madina, Muhammad Daud Lubis, menyatakan pihaknya telah mengambil sikap untuk berupaya membiayai keberangkatan lima peserta tersebut secara mandiri.
Menurut Daud, keputusan itu diambil setelah pengalaman meminta bantuan pada pelaksanaan Porsadin tingkat kabupaten dan provinsi belum membuahkan hasil yang diharapkan.
“Kami bertekad, untuk tingkat nasional ini kami tidak lagi mengemis bantuan. Insyaallah dana sendiri akan kami tanggung demi kepentingan MDTA,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengatakan FKDT tetap membuka peluang kerja sama dengan pihak-pihak yang secara sukarela ingin membantu pembiayaan keberangkatan peserta.
Daud menambahkan, persiapan menuju tingkat nasional membutuhkan perhatian serius karena jadwal keberangkatan semakin dekat.
Dukungan terhadap Santri Menjadi Catatan Evaluasi
Prestasi kontingen Madina yang membawa pulang 17 piagam dan meloloskan lima peserta ke tingkat nasional menjadi bukti potensi para santri diniyah yang patut diapresiasi.
Di sisi lain, perbedaan keterangan antara Bagian Kesra dan FKDT mengenai proses komunikasi, pengajuan bantuan, serta upaya pembiayaan menunjukkan pentingnya koordinasi yang lebih terstruktur antara pemerintah daerah dan organisasi penyelenggara pendidikan keagamaan.
Pernyataan Kesra mengenai upaya mencari bantuan melalui perusahaan perlu dilihat bersama keterangan FKDT yang mengaku telah berulang kali berkoordinasi, tetapi belum memperoleh kepastian hingga mendekati hari keberangkatan.
Ke depan, Pemkab Madina diharapkan dapat memperjelas mekanisme dukungan terhadap kegiatan pendidikan keagamaan, termasuk melalui perencanaan anggaran, sehingga pembinaan dan partisipasi santri dalam kompetisi tingkat provinsi maupun nasional tidak hanya bergantung pada kemampuan pengurus atau bantuan pihak lain.
Sebab, prestasi yang mengharumkan nama daerah semestinya menjadi perhatian bersama, baik bagi pemerintah, organisasi pendidikan keagamaan, maupun masyarakat.
Sementara itu, pihak Kementerian Agama (Kemenag) Madina yang dikonfirmasi lewat pesan tersebut terkait dukungan terhadap kontingen Porsadin hingga berita ini disusun belum memberikan tanggapan.
Reporter:Red












