Jakarta – Liputan 9.co
Selasa dini hari, 3 November 2026, tepat sebulan setelah tongkat estafet Kapolri berpindah, sebuah operasi senyap digelar di Jakarta. Tim gabungan Divisi Propam Mabes Polri dan Brimob bergerak ke sebuah kompleks perumahan. Targetnya bukan pelaku kriminal biasa, melainkan perwira tinggi Polri. Salah satu nama yang disebut dalam operasi itu adalah Jenderal (Purn) Listyo Sigit Prabowo.
Informasi ini mencuat dari dua narasumber dalam podcast Madilog Forum Keadilan yang dipandu sejarawan Indra J. Piliang, yakni Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra dan pengamat militer Universitas Nasional, Dr. Selamat Ginting.
Bermula dari Kecurigaan Telepon
Menurut Sri Radjasa Chandra, mantan agen BIN, kasus ini terbongkar bukan dari operasi intelijen resmi, melainkan dari laporan kerabat dekat Presiden yang curiga teleponnya disadap.
“Penyadapan menggunakan spyware NSO, yang sangat canggih. Bisa merekam WA, menghidupkan mikrofon dan kamera HP,” klaim Sri Radjasa dalam podcast tersebut.
Setelah ditelusuri, sinyal tersebut diklaim mengarah ke kawasan Jalan Widya Chandra. Seorang operator yang merasa aksinya terdeteksi kemudian melapor ke Propam/Bareskrim, yang kemudian menjadi pintu masuk pengusutan.
Senada, Dr. Selamat Ginting menyebut Mabes Polri mendeteksi adanya aktivitas radar mencurigakan di beberapa lokasi.
“Mabes Polri melihat ada radar yang sedang dimainkan. Ternyata ada di rumah Irjen Pol Ahrie Sonta. Di waktu bersamaan juga di rumah Irjen Pol Slamet Uliandi dan Brigjen Pol Eko Hadi Santoso,” ujarnya.
Kronologi Penangkapan Versi Narasumber
Ginting mengklaim saat petugas mendatangi kediaman Irjen Ahrie Sonta, sempat terjadi penolakan. Namun akhirnya yang bersangkutan dibawa ke Mako Brimob Kelapa Dua, Depok.
“Di Mako Brimob, Ahrie akhirnya membuka suara. Ia mengakui operasi itu dilakukan atas perintah Jenderal Listyo Sigit Prabowo,” kata Ginting, mengutip pengakuan yang belum terkonfirmasi secara resmi di persidangan.
Dari pengakuan tersebut, menurut Ginting, kemudian dilakukan penangkapan terhadap sejumlah perwira lain termasuk Irjen Pol Abdul Karim dan Irjen Pol Nunung Saifuddin.
Soal Alat Sadap dan Daftar 11 Nama
Ginting menyoroti alat sadap yang digunakan disebut bernilai triliunan rupiah dan dibeli menggunakan APBN.
“Awalnya alat itu di BIN, lalu entah bagaimana pindah ke Mabes Polri, lalu ke rumah-rumah pribadi. Ini penyalahgunaan alat negara,” ujarnya.
Ia juga menyebut penyadapan diduga menyasar sejumlah elit, termasuk Presiden Prabowo Subianto, para menteri, hingga mantan Presiden SBY. Hingga kini, klaim tersebut masih dalam tahap penyelidikan Bareskrim dan belum diuji di pengadilan.
Dalam podcast itu, Ginting menyebut ada 11 nama yang diduga terlibat dan akan terus dikembangkan penyidik:
1. Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo
2. Komjen Pol Asep Dedi Suhari
3. Komjen Pol Suhardianto
4. Komjen Pol Yuda Gustawan
5. Irjen Pol Eko Hadi Santoso
6. Irjen Pol Dedi Murti
7. Irjen Pol M. Tejo Kusumo
8. Irjen Pol Nunung Saifuddin
9. Irjen Pol Ribut Hari Wibowo
10. Irjen Pol Abdul Karim
11. Irjen Pol Ahrie Sonta Nasution
Dikutip dari http,//medianusantara.online












