Berita

Pendiri THARIQAT NAQSYABANDIYAH

23
×

Pendiri THARIQAT NAQSYABANDIYAH

Sebarkan artikel ini

Pendiri THARIQAT NAQSYABANDIYAH

Bandar Tinggi, Simalungun Liputan9.co

Syekh Bahauddin Naqsyaband adalah pendiri Tarekat Naqsyabandiyah, salah satu tarekat sufi paling berpengaruh dalam sejarah Islam yang menekankan kejernihan hati, kedisiplinan batin, dan zikir yang tersembunyi di dalam kesadaran.

Ia lahir sekitar tahun 1318 M di sebuah desa kecil dekat Bukhara, wilayah yang kini berada di Uzbekistan. Sejak muda, Bahauddin dikenal sebagai pribadi yang tidak tertarik pada gemerlap kehidupan dunia. Ia lebih memilih kesunyian, perenungan, dan zikir yang tenang dibanding keramaian sosial yang kosong dari makna spiritual.

Dalam perjalanan ilmunya, ia menempuh pendidikan dari para ulama dan sufi besar pada zamannya. Salah satu guru yang paling berpengaruh dalam pembentukan spiritualnya adalah Sayyid Amir Kulal. Dari gurunya ini, Bahauddin belajar tentang kesederhanaan hidup, adab dalam beribadah, serta pentingnya menjaga hati agar selalu terhubung dengan Allah dalam setiap keadaan.

Nama “Naqsyaband” sering dimaknai sebagai “pengukir”. Dalam tradisi sufi, makna ini bukan sekadar simbol, tetapi menggambarkan metode spiritual yang ia ajarkan: mengukir nama Allah di dalam hati, bukan di lisan semata. Dari sini lahir ciri khas utama Tarekat Naqsyabandiyah, yaitu zikir khafi atau zikir tersembunyi—zikir yang dilakukan tanpa suara, tanpa gerakan bibir, melainkan hadir dalam kesadaran batin yang terus hidup.

Bagi Bahauddin, kekuatan spiritual tidak diukur dari keramaian ibadah yang tampak, tetapi dari ketenangan hati yang konsisten mengingat Allah di tengah aktivitas sehari-hari. Karena itu, ajarannya dikenal sangat seimbang: seorang murid tarekat tidak boleh meninggalkan dunia, tetapi juga tidak boleh tenggelam di dalamnya. Ia harus bekerja, berusaha, dan menjalani kehidupan sosial, namun hatinya tetap berada dalam kehadiran Allah.

Prinsip ini membuat Tarekat Naqsyabandiyah berbeda dari sebagian tradisi sufi lain yang cenderung menarik diri dari kehidupan dunia. Naqsyabandiyah justru menekankan “hati di tengah keramaian”, yakni kemampuan menjaga zikir meskipun sedang berinteraksi, bekerja, dan menjalani aktivitas harian.

Seiring waktu, ajaran Bahauddin menyebar luas dan membentuk jaringan spiritual yang sangat kuat. Tarekat Naqsyabandiyah berkembang dari Asia Tengah ke Persia, India, Turki, hingga akhirnya sampai ke berbagai wilayah dunia Islam, termasuk Nusantara. Di banyak tempat, tarekat ini menjadi jalan spiritual yang mengajarkan ketenangan, disiplin, dan kedalaman hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.

Syekh Bahauddin Naqsyaband wafat pada tahun 1389 M di kampung halamannya, Qasr-i Arifan. Ia dimakamkan di tempat yang sama, dan hingga hari ini makamnya tetap menjadi مقصد ziarah bagi banyak orang yang mencari ketenangan jiwa serta inspirasi spiritual.

Warisan terbesarnya bukan hanya sebuah tarekat, tetapi sebuah cara hidup: bekerja tanpa melupakan Allah, dan berzikir tanpa harus terdengar oleh dunia. Sebuah jalan sunyi yang justru menghidupkan hati di tengah kehidupan yang ramai.

TNAJ

Tinggalkan Balasan