Berita

Menakar Ulang Bahaya Gempa Kerak Dangkal di Jalur Sesar Aktif Sulawesi Tengah

38
×

Menakar Ulang Bahaya Gempa Kerak Dangkal di Jalur Sesar Aktif Sulawesi Tengah

Sebarkan artikel ini

Salatiga, Liputan9.co

Gempa berkekuatan M6,7 yg mengguncang Sulawesi Tengah pada 16 Juni 2026 kembali menyingkap kerentanan geologis yg mendalam di wilayah ini. Sebagai gempa kerak dangkal yg dipicu oleh aktivitas sesar aktif, peristiwa ini mjd pengingat bahwa ancaman seismik di Sulawesi tdk hny bersumber dari jalur sesar utama Palu-Koro, melainkan jg dari percabangan sesar kompleks di sekitarnya.

Secara tektonik, kawasan Palolo dan Sausu merupakan zona tarikan atau pull-apart yg terbentuk akibat dinamika Sesar Palu-Koro. Ketidaksempurnaan pd jalur sesar geser utama menciptakan peregangan kerak bumi yg melahirkan sesar-sesar turun, yang kemudian membentuk cekungan atau basin yg kini terisi oleh endapan sedimen. Inilah yg menjadi kunci mengapa guncangan gempa ini menjadi sangat destruktif. Endapan sedimen yg lunak di wilayah cekungan cenderung mengamplifikasi atau memperkuat gelombang seismik, menyebabkan bangunan di atasnya menerima guncangan jauh lebih kuat dibandingkan area dengan batuan dasar yg keras.

Kerusakan infrastruktur yg massif -mulai dari ratusan rumah di Kabupaten Sigi yg menanggung dampak terberat, hingga terputusnya ruas jalan vital Palu–Sigi–Poso -menjadi bukti nyata bhw kerentanan fisik kita masih sangat tinggi. Mayoritas bangunan yg terdampak adalah struktur non-rekayasa yg blm memenuhi standar ketahanan gempa. Amblasnya jalur logistik utama juga menggarisbawahi urgensi pembangunan infrastruktur yang lebih tangguh dan perlunya jalur evakuasi alternatif yg tidak bergantung pada satu akses saja.

Jika menilik kembali catatan Sejarah gempa, mulai dari tahun 1983, 1995, 2005, hingga 2017, wilayah ini memang menunjukkan persistensi aktivitas seismik yg tinggi. Rangkaian peristiwa ini menegaskan bahwa kita hidup di atas kawasan yg sangat dinamis. Trauma kolektif masyarakat pasca-peristiwa besar di masa lalu membuat setiap guncangan hari ini memicu kepanikan yang perlu dikelola dengan edukasi yg tepat, agar warga mampu membedakan antara guncangan yg bersifat destruktif dan yg tidak.

Pelajaran dari gempa ini sangat jelas, yakni perlunya pergeseran paradigma mitigasi. Kita tidak bisa lagi hanya fokus pada jalur sesar utama yang telah dikenal, namun harus segera mengakselerasi pemetaan mikrozonasi seismik hingga ke tingkat yang lebih detail. Pemerintah daerah perlu menjadikan data kerawanan ini sebagai acuan utama dalam penataan ruang, termasuk membatasi pembangunan di atas zona sesar aktif. Mengingat kompleksitas ini, kesiapsiagaan bukan lagi sebuah opsi, melainkan sebuah kebutuhan mutlak bagi kelangsungan hidup di zona seismik aktif seperti Sulawesi Tengah.

(DAR)

Tinggalkan Balasan