RIAU|LIPUTAN 9.CO
Awalnya Jenderal Listyo tidak bisa datang karena dipanggil Presiden. Namun akhirnya pesawat beliau landing jam 9 malam di airport Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru Riau.
Beliau langsung ke kediaman Ustadz Abdul Somad di Rimbo Panjang Kampar Riau. Awalnya Uas menduga Jenderal Listyo hanya sekedar say helo. Tapi ternyata pertemuan itu hampir pukul dua belas malam. Apa yang mereka bicarakan. Jenderal Listyo bertanya, “Apa yang Ustadz rasakan bersama masyarakat?”. Uas menjawab, “Saya simpulkan tiga:
Pertama, penuhi hajat hidup masyarakat; makanan pokok murah, biaya pendidikan terjangkau, tamat sekolah bisa kerja, kalau sakit layanan masyarakat baik, kalau beribadah nyaman. Orang lapar, nganggur, sakit, kurang ibadah, mudah marah Jenderal.
Kedua, tertibkan sosial media. One man one account. Fake account sangat merusak. Orang marah dan orang sakit secara psikologis melampiaskan kemarahannya di fake accaunt. Ketika Virus masuk sosial media, jadi virus juga, tapi sebesar gajah.
Ketiga, pejabat jangan stetmen blunder. Ada orang lapar, dibumbui sosial media, melihat pejabat publik blunder. Bisa meledak. Ketika ledakan ini teejadi. Yang head to head dengan masyarakat bukan pejabat, tapi anak buah Jenderal. Mereka bukan robot. Polisi itu manusia, istrinya sedang hamil, anaknya sekolah, punya masalah hidup dan seterusnya”. Dialog hangat itu yang membuat udara malam Rimbo Panjang ikut terbakar. Nyamuk-nyamuk menjauh karena asap tembakau herbal Irjenpol Herimen dan Irjenpol Nainggolan.
Uas melanjutkan, “Riau ini puluhan tahun korban pembalakan hutan, bencana asap, illegal loging dan seterusnya. Jenderal kirim orang yang cinta pohon kayu dan sayang pada binatang, lahirlah Green Policing. Sekolah, kampus, kantor dll ia rambah. Tapi jabatan Kapolda tidak abadi. Kalaupun berganti, ya tolong 11-12, jangan sampai 11-17. Hancur pendidikan ecologi yang sudah dibangun ini. Sikap ramah terhadap tokoh adat, tokoh masyarakat dan tokoh agama. Linier dari Kapolda, Kapolres sampai Kapolsek.
Mereka pertemukan Uas dengan ibu bapa mereka lewat videocall dan doa. Bahkan ibu Kapolres menitipkan anaknya. Hubungan personal, kekeluargaan, bukan antara aparat dengan masyarakat. Hubungan melekat di hati seperti ini yang akan menjadi kenangan hingga akhir hayat. Tradisi seperti ini mesti dijaga. Karena masyarakat apa pun terkait dengan tokoh, public figur dan orang-orang kharismatik”.
Tak terasa waktu sudah larut malam. Sementara esok pagi Kapolri acara full di Provinsi Riau. Jenderal Listyo seperti lupa bahwa ia mesti menyisakan energi untuk esok pagi.
Red












