Tapanuli Tengah, LIPUTAN9.CO – Tanda tanya besar kini meluas menjadi tuduhan yang tak bisa lagi dibungkam. Operasional pengolahan kayu milik PT BEEST di wilayah Tapian Nauli kini dipertanyakan habis-habisan: kayu yang masuk ke pabrik tidak memiliki jejak asal-usul yang sah, tidak ada kejelasan dari mana diambil, dan penebangannya diduga kuat dilakukan tanpa dasar perizinan yang sah menurut hukum yang berlaku.
Lantas, berani kah kita bilang Bumi Tapanuli Tengah ini masih dalam keadaan baik-baik saja?
Bagaimana mungkin dikatakan aman, ketika perusahaan yang tidak memiliki rasa tanggung jawab sedikit pun dengan seenaknya merambah, menebang, hingga menggunduli hutan lindung dan daerah tangkapan air tanpa peduli aturan, tanpa peduli nasib ribuan nyawa yang tinggal di bawah kaki bukit itu? Apakah kita harus menunggu arus banjir kembali merobohkan rumah, tanah longsor kembali menimbun nyawa, baru semua mata mau terbuka lebar? Apakah sejarah kelam bencana yang menyayat hati tahun lalu belum cukup menjadi tamparan keras bagi kita semua?
Apakah Tapanuli Tengah memang ditakdirkan untuk kembali menangis, kembali menderita, hanya karena ada sekelompok orang yang lebih mementingkan keuntungan pribadi daripada keselamatan rakyat?
Di mana letak hati nurani para pemangku jabatan? Di mana rasa amanah yang kalian ucapkan saat dilantik? Bagaimana bisa penebangan liar, pengangkutan kayu tanpa dokumen sah, hingga pengolahan bahan baku yang asalnya kabur begitu saja masih berjalan lancar di tengah wilayah ini? Apakah aturan hukum hanya tertulis di atas kertas, lalu disimpan rapi demi melindungi kepentingan segelintir orang berkuasa?
Ketua DPW Sumatera Utara IJEN dengan tegas menegaskan dan mendesak segenap Aparat Penegak Hukum beserta instansi terkait untuk segera melakukan pemeriksaan mendalam tanpa pandang bulu. Siapa saja pejabat atau dinas yang diduga memberikan lampu hijau, mengeluarkan izin fiktif, atau membiarkan perusakan hutan berlangsung pasca bencana besar itu, harus segera dipanggil dan dimintai pertanggungjawaban secara hukum.
Bukan tanpa alasan masyarakat begitu marah dan tidak mau lagi diam. Sangat besar dugaan bahwa bencana dahsyat yang melanda Tapanuli Tengah, terutama wilayah Tapian Nauli, bukan sekadar ulah alam semata. Itu adalah buah dari tangan manusia yang serakah: penebangan liar yang merajalela, penggundulan hutan secara besar-besaran yang dilakukan oleh oknum yang tidak punya rasa malu, tidak punya rasa takut kepada Tuhan maupun rasa sayang kepada sesama warga sendiri.
Hutan yang seharusnya menjadi benteng pertahanan alam kini telah digunduli habis hanya untuk mengisi kantong mereka. Dan ketika bencana datang menimpa rakyat, mereka bersembunyi, seolah tidak pernah tahu apa-apa.
Kini rakyat menuntut satu hal: periksa kelengkapan seluruh izin operasional PT BEEST, periksa keabsahan dokumen lingkungan seperti AMDAL yang menjadi syarat mutlak berdirinya usaha ini, telusuri jejak setiap batang kayu yang telah diproses, dan temukan siapa saja yang menjadi perantara maupun pelindung di balik layar. Jika terbukti ada pelanggaran, proses hukum tanpa pandang bulu, dan biarkan hukum yang berbicara, bukan lagi kebijakan yang bisa diperjual belikan. (Dedy)












