Tapanuli Selatan, LIPUTAN9.CO – Suasana santai di tengah teriknya siang, menjadi ruang diskusi yang penuh makna ketika dua mantan aktivis kepemudaan Tapanuli Selatan (Tapsel) berbincang mengenai kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di Kota Sipirok.
Perbincangan diawali oleh Baginda Muda Siregar, mantan aktivis KNPI yang dikenal dengan gaya komunikasinya yang hangat dan khas layaknya seorang wartawan. Diskusi kemudian disambut Riduan Harahap, mantan aktivis Pemuda Muhammadiyah yang kini aktif mengembangkan Koperasi Merah Putih dan HKTI Tapanuli Selatan.
Keduanya membahas berbagai persoalan yang tengah dihadapi masyarakat, khususnya geliat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang dinilai belum sepenuhnya pulih pascabencana banjir yang melanda Tapanuli Selatan pada akhir tahun lalu.
Di tengah perbincangan tersebut, hadir Ketua BAZNAS Kabupaten Tapanuli Selatan, Jon Sujani, yang kemudian bergabung dan menjadi narasumber utama dalam diskusi santai itu.
Sambil menikmati secangkir kopi, Jon Sujani menjelaskan bahwa BAZNAS Tapanuli Selatan saat ini tengah berupaya memulihkan kondisi ekonomi masyarakat miskin, khususnya pelaku UMKM yang terdampak banjir.
“Kami dari BAZNAS sedang berupaya membangkitkan kembali semangat dan kepercayaan diri para pelaku usaha kecil yang terdampak banjir. Insya Allah setiap keluarga korban akan diberikan bantuan stimulan modal usaha sebesar Rp1 juta,” ujar Jon Sujani, Jumat (10/07/2026)
Ia menjelaskan, sebelumnya BAZNAS juga telah menyalurkan bantuan darurat kepada para korban banjir sebagai bentuk respons cepat terhadap musibah yang terjadi. Kini, fokus lembaga bergeser pada program pemberdayaan ekonomi agar masyarakat mampu kembali mandiri.
Menurut Jon, visi besar BAZNAS bukan hanya memberikan bantuan konsumtif, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi masyarakat melalui program zakat produktif.
“Kami ingin mustahik tidak selamanya menjadi penerima zakat. Harapannya mereka dapat berkembang menjadi muzaki, yakni orang yang mampu mengeluarkan zakat. Dengan begitu rantai kemiskinan dapat diputus secara bertahap,” jelasnya.
Ia menambahkan, pola pembinaan disesuaikan dengan latar belakang pekerjaan penerima manfaat. Para petani akan mendapatkan pendampingan di sektor pertanian, sedangkan pelaku UMKM memperoleh bantuan modal, pembinaan usaha, hingga evaluasi berkala agar usahanya terus berkembang.
“Kalau petani, kita dorong produktivitas pertaniannya. Kalau pelaku UMKM, kita bantu permodalan sekaligus pembinaan agar usahanya semakin maju. Semua akan didampingi hingga benar-benar mandiri,” katanya.
Jon Sujani juga mengungkapkan bahwa BAZNAS Tapanuli Selatan telah menjalin kerja sama dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di beberapa kecamatan. Sinergi tersebut telah membuka peluang pasar bagi hasil pertanian masyarakat binaan.
“Alhamdulillah, usaha pertanian masyarakat binaan kami mulai menggeliat. Bahkan ada yang sudah menikmati hasil panen dan memasok kebutuhan dapur MBG,” ungkapnya.
Tak hanya fokus pada sektor ekonomi, BAZNAS Tapanuli Selatan juga terus memperluas perhatian terhadap dunia pendidikan. Jon mengatakan lembaganya telah menyiapkan program bantuan pendidikan bagi siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu.
“Anak-anak berprestasi dari keluarga miskin akan kami dampingi melalui program beasiswa hingga ke perguruan tinggi. Harapannya, mereka kelak menjadi generasi yang sukses dan mampu menjadi muzaki baru yang memberi manfaat bagi masyarakat,” pungkas Jon Sujani.
Perbincangan yang berlangsung hangat itu akhirnya ditutup seiring berkumandangnya azan Jumat. Ketiga tokoh tersebut kemudian bergegas menuju Masjid Taqwa Pasar Sipirok untuk menunaikan salat Jumat.
Diskusi sederhana di warung kopi tersebut menjadi gambaran bahwa gagasan-gagasan besar mengenai pemberdayaan ekonomi umat dan pengentasan kemiskinan dapat lahir dari ruang-ruang percakapan yang akrab. Komitmen BAZNAS Tapanuli Selatan dalam mendorong transformasi mustahik menjadi muzaki pun diharapkan menjadi salah satu ikhtiar nyata dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (BMS)












